Saturday, January 14, 2012

Tentang Ikhlas, Syukur dan Sabar

"guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukanlah kerbau. karena itu, marilah kita sama-sama belajar" :)

(dari kajian IMEKA bertajuk sama dengan judul)

Tulisan ini berat jika dimaksudkan sebagai resume kajian. Kata-kata yang terserak ini hanyalah sebaris dua baris kalimat yang terlintas dan tertangkap dalam benak saya ketika mendengarkan penuturan sang ustadz.

Ikhlas, sabar dan syukur. Mungkin tiga kata ini adalah kata yang awam kita dengar, dalam ceramah-ceramah keagamaan ataupun tak jarang di keseharian kita. Dikatakan bahwa tiga kata ini adalah tiga kata “ajaib” yang menjadi bekal seorang muslim dalam kehidupannya. Mengapa? Karena tiga bekal ini cukup menjadikan seorang muslim senantiasa berpikir positif tentang segala sesuatu yang menimpanya. Sehingga, jangan pernah dipikir bahwa ikhlas, sabar, dan syukur membawa arti fatalisme, atau sikap pasrah di diri setiap muslim. Islam berasal dari kata taslim..begitupun muslim adalah bentuk isim masdar nya, yang berarti orang yang berpasrah diri. Namun, Islam mengajarkan agar sikap pasrah ini ditempatkan pada posisi yang tepat. Hal ini dapat terwujud apabila kita telah mengetahui dan mengenal definisi tiga istilah tersebut dengan sangat baik. That’s why, sang ustadz mengatakan di awal ceramahnya bahwa kita harus mengenal tiga definisi ini dengan sangat baik, selayaknya sesama manusia yang saling mengenal.

Ikhlas tidak bisa dilepaskan dari sikap ihsan, bersikap seolah-olah Allah melihat kita. Dua kriteria yang harus ada dalam setiap perbuatan kita agar ikhlas senantiasa melekat adalah lillah dan billah. Lillah artinya bahwa ketika kita mengerjakan pekerjaan tersebut harus senantiasa dilandasi niat karena Allah semata, bukan karena mengharapkan pujian atau pandangan baik dari orang lain. Billah artinya dengan Allah, artinya cara yang dilakukan pun harus baik, sesuai dengan apa yang Allah ridlai.

Aktivitas sabar juga harus senantiasa dilakukan seorang muslim, di samping ikhlas. Sabar yang diwajibkan adalah sabar dalam ketaatan dan menjalani ketaatan (QS 3:142). Misalnya dalam memanfaatkan harta dan memilih pasangan hidup. Selain itu adapula sabar untuk tidak melakukan maksiat, contoh : suap dan perzinaan. Dan juga sabar dalam menghadapi musibah.
Ada hal menarik yang dibahas dalam ceramah ini berkaitan dengan kata “inna” yang berada dalam kalimat “inna lillahi wa inna illaihi raaji’un”, doa yang dibaca setiap muslim ketika menghadapi musibah. Hal ini dibahas dalam tafsir al-Misbah Quraish shihab. Mengapa yang digunakan di sana adalah isim dhamir orang ketiga jamak, yaitu kami..bukannya isim dhamir orang pertama tunggal, yaitu saya. Kata “kami” di sini berarti bahwa seorang muslim jangan pernah berpikir bahwa dia sendirian ketika menanggung suatu musibah, karena ada muslim lain yang juga menanggung musibah yang sama, bahkan bisa jadi lebih berat. Ketika kita merasa menjadi orang yang paling menderita sedunia, bisa jadi saat itu kita sedang merasa jauh dari Allah.

Selain sabar yang diwajibkan, ada juga jenis sabar yang diharamkan yaitu bila aktivitas sabar tersebut mengancam nyawa.

Begitulah perspektif positif yang senantiasa dimiliki muslim ketika ditimpa musibah, maka ia akan bersabar. Ia sadar bahwa amal ibadah yang dilakukannya bukanlah semata-mata alat untuk menghindar dari musibah. Karena bisa jadi itu adalah ujian terhadap keimanan dan ketaatannya. Dan muslim ketika ia diberikan nikmat, ia pun akan senantiasa bersyukur. Rasulullah yang ma’sum dan dijamin masuk surga saja senantiasa melakukan ibadah-ibadah sunnah dengan intensitas yang luar biasa, sedangkan kita..ahh, betapa sombongnya kita. Terkadang kita sudah merasa suci, padahal amal ibadah yang kita lakukan baru sedikit. Apalagi jika kita terbiasa baru melakukan ibadah2 sunnah dalam kerangka nadzar, betapa pelitnya kita memberikan waktu-waktu kita untuk beribadah kepada-Nya. Astaghfirullah..astaghfirullah..

Betapa luar biasanya Islam yang memiliki cara yang sederhana, namun luar biasa untuk pemeluknya agar senantiasa memiliki cara pandang yang positif. Betapa uniknya muslim, harus sabar karena Allah..yaitu dalam ketaatan, namun juga harus bersikap marah karena Allah..yaitu jika melihat kemaksiatan. Islam melarang sikap dengki, namun juga menganjurkan muslim untuk bersikap “iri” dalam dua hal, yaitu kepada ahli infaq dan ahli ilmu. Perspektifnya Islam mendorong setiap muslim untuk kaya namun bukan untuk bermegah2an, tetapi untuk dibagikan dan digunakan dalam jalan umat dan dakwah.

Betapa mengagumkannya urusan kaum muslim..ya, betapa mengagumkannya..

1 comments:

elly said...

Subhanallah...mg ikhlas, syukur dan sabar menjadi"perhiasan" diri kita. Jazakillah sharingnya ya..barokallohu fiik