"guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukanlah kerbau. karena itu, marilah kita sama-sama belajar" :)
(dari kajian IMEKA bertajuk sama dengan judul)
Tulisan ini berat jika dimaksudkan sebagai resume kajian. Kata-kata yang terserak ini hanyalah sebaris dua baris kalimat yang terlintas dan tertangkap dalam benak saya ketika mendengarkan penuturan sang ustadz.
Ikhlas, sabar dan syukur. Mungkin tiga kata ini adalah kata yang awam kita dengar, dalam ceramah-ceramah keagamaan ataupun tak jarang di keseharian kita. Dikatakan bahwa tiga kata ini adalah tiga kata “ajaib” yang menjadi bekal seorang muslim dalam kehidupannya. Mengapa? Karena tiga bekal ini cukup menjadikan seorang muslim senantiasa berpikir positif tentang segala sesuatu yang menimpanya. Sehingga, jangan pernah dipikir bahwa ikhlas, sabar, dan syukur membawa arti fatalisme, atau sikap pasrah di diri setiap muslim. Islam berasal dari kata taslim..begitupun muslim adalah bentuk isim masdar nya, yang berarti orang yang berpasrah diri. Namun, Islam mengajarkan agar sikap pasrah ini ditempatkan pada posisi yang tepat. Hal ini dapat terwujud apabila kita telah mengetahui dan mengenal definisi tiga istilah tersebut dengan sangat baik. That’s why, sang ustadz mengatakan di awal ceramahnya bahwa kita harus mengenal tiga definisi ini dengan sangat baik, selayaknya sesama manusia yang saling mengenal.
Ikhlas tidak bisa dilepaskan dari sikap ihsan, bersikap seolah-olah Allah melihat kita. Dua kriteria yang harus ada dalam setiap perbuatan kita agar ikhlas senantiasa melekat adalah lillah dan billah. Lillah artinya bahwa ketika kita mengerjakan pekerjaan tersebut harus senantiasa dilandasi niat karena Allah semata, bukan karena mengharapkan pujian atau pandangan baik dari orang lain. Billah artinya dengan Allah, artinya cara yang dilakukan pun harus baik, sesuai dengan apa yang Allah ridlai.
Aktivitas sabar juga harus senantiasa dilakukan seorang muslim, di samping ikhlas. Sabar yang diwajibkan adalah sabar dalam ketaatan dan menjalani ketaatan (QS 3:142). Misalnya dalam memanfaatkan harta dan memilih pasangan hidup. Selain itu adapula sabar untuk tidak melakukan maksiat, contoh : suap dan perzinaan. Dan juga sabar dalam menghadapi musibah.
Ada hal menarik yang dibahas dalam ceramah ini berkaitan dengan kata “inna” yang berada dalam kalimat “inna lillahi wa inna illaihi raaji’un”, doa yang dibaca setiap muslim ketika menghadapi musibah. Hal ini dibahas dalam tafsir al-Misbah Quraish shihab. Mengapa yang digunakan di sana adalah isim dhamir orang ketiga jamak, yaitu kami..bukannya isim dhamir orang pertama tunggal, yaitu saya. Kata “kami” di sini berarti bahwa seorang muslim jangan pernah berpikir bahwa dia sendirian ketika menanggung suatu musibah, karena ada muslim lain yang juga menanggung musibah yang sama, bahkan bisa jadi lebih berat. Ketika kita merasa menjadi orang yang paling menderita sedunia, bisa jadi saat itu kita sedang merasa jauh dari Allah.
Selain sabar yang diwajibkan, ada juga jenis sabar yang diharamkan yaitu bila aktivitas sabar tersebut mengancam nyawa.
Begitulah perspektif positif yang senantiasa dimiliki muslim ketika ditimpa musibah, maka ia akan bersabar. Ia sadar bahwa amal ibadah yang dilakukannya bukanlah semata-mata alat untuk menghindar dari musibah. Karena bisa jadi itu adalah ujian terhadap keimanan dan ketaatannya. Dan muslim ketika ia diberikan nikmat, ia pun akan senantiasa bersyukur. Rasulullah yang ma’sum dan dijamin masuk surga saja senantiasa melakukan ibadah-ibadah sunnah dengan intensitas yang luar biasa, sedangkan kita..ahh, betapa sombongnya kita. Terkadang kita sudah merasa suci, padahal amal ibadah yang kita lakukan baru sedikit. Apalagi jika kita terbiasa baru melakukan ibadah2 sunnah dalam kerangka nadzar, betapa pelitnya kita memberikan waktu-waktu kita untuk beribadah kepada-Nya. Astaghfirullah..astaghfirullah..
Betapa luar biasanya Islam yang memiliki cara yang sederhana, namun luar biasa untuk pemeluknya agar senantiasa memiliki cara pandang yang positif. Betapa uniknya muslim, harus sabar karena Allah..yaitu dalam ketaatan, namun juga harus bersikap marah karena Allah..yaitu jika melihat kemaksiatan. Islam melarang sikap dengki, namun juga menganjurkan muslim untuk bersikap “iri” dalam dua hal, yaitu kepada ahli infaq dan ahli ilmu. Perspektifnya Islam mendorong setiap muslim untuk kaya namun bukan untuk bermegah2an, tetapi untuk dibagikan dan digunakan dalam jalan umat dan dakwah.
Betapa mengagumkannya urusan kaum muslim..ya, betapa mengagumkannya..
Dear diary
Hanya keluh kesah, pelajaran, dan mudah-mudahan hikmah. Hanya sebuah kegundahan yang tak sempat kuungkap pada dunia. Very complicated character..like other ordinary girls do
Saturday, January 14, 2012
Friday, January 06, 2012
Tentang Saya, Eropa, dan Buku “99 Cahaya”
Judul buku : 99 Cahaya di Langit Eropa - Perjalanan Menapaki Jejak Islam di Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Jumlah Halaman : 412 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Cetakan I, 2011
Yogyakarta, 29 Agustus 2011. Saat itu, hampir satu bulan sebelum keberangkatan saya ke Belgia. Kebetulan juga hari itu adalah hari ulang tahun saya. Rencananya ingin membeli beberapa buku sebagai “bekal” ilmu saya nanti, sekaligus “menghadiahi” diri sendiri di hari jadi yang ke-23. Tiba-tiba pandangan saya terhenti pada sebuah buku yang ditulis oleh seseorang yang memiliki nama belakang Rais. Saat itu yang terlintas dalam benak saya adalah si penulis pasti memiliki hubungan darah dengan Amien Rais, dan bisa jadi ini adalah buku yang menarik. Lantas saya ambil buku tersebut, dan mulai membaca testimoni yang ditulis di sampul bukunya.
“Novel perjalanan ini menunjukkan bahwa kebudayaan dan teknologi, selalu berjalan berdampingan, saling mengisi, menentukan masa depan suatu peradaban” BJ Habibie (Mantan Presiden Republik Indonesia)Aha, testimoni dari BJ Habibie Sepertinya buku ini memang “sesuatu”, dan setelah saya membacanya, buku ini memang “sesuatu” . Berbekal buku ini pula, saya berusaha mencari arah “sesuatu” dalam perjalanan saya selama 10 bulan di tanah Eropa nantinya.
Secara garis besar, buku ini berisi kisah perjalanan yang dialami oleh seorang Hanum Rais dan suaminya selama tinggal di Eropa. Si penulis menceritakan seluruh perjalanannya dalam menjelajahi Austria, Prancis, Spanyol, dan Turki, dengan bahasa yang ringan namun sarat akan hikmah dan pelajaran sejarah yang berarti. Banyak informasi baru yang saya dapatkan dari buku ini, seperti deskripsi gaya arsitektur gothic dan baroque gereja, serta asal bunga Tulip dan cappuccino yang ternyata berasal dari Turki. Belajar sejarah tidak harus melalui buku teks yang kering atau menjemukan, dan saya menemukannya dalam buku ini.
Kisahnya bermula dari persahabatan Hanum dengan seorang wanita Turki bernama Fatma di kelas bahasa yang ia ikuti di Vienna, Austria. Dari wanita inilah ia kemudian menemukan banyak hal tentang ketulusan hati dan figur muslim yang baik di tengah sekulerisme Eropa. Bukan hanya ketulusan, namun juga ironi, termasuk mengenai keberadaan Vienna Islamic Centre yang terletak di samping Sungai Danube, lokasi yang sering dipergunakan oleh orang setempat untuk melakukan tindakan yang "tidak baik". Namun di sisi lain ternyata ironi ini membawa keberkahan tersendiri bagi masyarakat sekitarnya. Banyak orang yang pada akhirnya justru tertarik untuk semakin belajar mengenai Islam ke tempat ini, sehingga keberadaan Islamic Center ini tetap dipertahankan. Begitulah penuturan Imam Hashim imam masjid tersebut kepada Hanum. Perkenalannya dengan Imam ini pula yang menjadi gerbang pertemuannya dengan seorang Muslimah Prancis, Marion lulusan studi Islam Abad Pertengahan Sorbonne University Prancis.
Marion, seorang mualaf yang memiliki banyak pengetahuan, menunjukkan kepada Hanum tempat-tempat di Paris, yang lebih menarik dibandingkan dengan Eiffel atau Louvre. Selain itu, Ia pun menceritakan mengenai misteri yang ada di kota Paris seperti status kemusliman Napoleon Bonaparte, fenomena satu garis bangunan (Axe Historique) antara air mancur besar, monument obelisk Mesir, jalan Champs-Elysees, monument Arc de Triomphe, yang menghadap ke arah ka’bah. Dari Marion pula Hanum mengetahui tentang kalimat tauhid dalam bentuk tulisan Arab Kuffic, yang ada di lukisan Bunda Maria Ugolino.
Tulisan Arab Kuffic merupakan tiruan dari tulisan Arab, yang saat itu menjadi salah satu simbol kemajuan peradaban di dunia.
Ketika membaca mengenai misteri yang ada di balik kota Paris, ada sebersit keraguan yang mampir di benak saya. Benarkah ini, atau hanya sekedar teori konspirasi murahan yang berusaha mengagungkan Islam namun salah tempat. Begitu pula yang dirasakan oleh Hanum ketika mendengarkan penuturan Marion. Well, wallahua’lam..hanya Allah yang Maha Mengetahui tentang hal ini memang.
Namun perkara kedigdayaan peradaban Islam di Abad Pertengahan Eropa (yang tidak ingin disebut Abad Kegelapan) merupakan suatu perkara yang tidak dapat dielakkan. Di masa ketika Galileo Galilei dihukum pancung, karena pendapatnya yang bertentangan dengan pendapat gereja bahwa bumi adalah pusat tata surya, Ibnu Haitsam telah terlebih dahulu menemukan kamera. Dan masih banyak lagi ilmuwan Islam yang lahir di zaman itu, yang kini menjadi rujukan ilmuwan di Barat dan Timur. Islam pernah menjadi sumber cahaya yang menerangi Eropa yang saat itu diliputi kegelapan.
Banyak di antara umat Islam kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati (halaman 5)
Kota Cordoba dan Granada pernah menjadi saksi kejayaan peradaban Islam dulu. Hanum menggambarkannya melalui deskripsi bangunan Taman Generalife dan Istana Nasrid dalam komplek Alhambra yang indah. Namun juga ironi keruntuhannya, melalui ilustrasi Benteng Alcazar yang menjadi tempat penyerahan kekuasaan dari Sultan Boabdil kepada Isabela-Ferdinand; dan juga sejarah Katedral Mezquita. Cordoba pernah menjadi pusat peradaban Islam dulu, dan Granada menjadi kota terakhir yang dimilikinya sebelum akhirnya berpindah tangan ke Kerajaan Spanyol. Dan kini, jejak Islam hampir hilang tak berbekas dari tanah Spanyol. Jika melihat sisa peninggalan di Sevilla dan Barcelona sekarang, mata kita akan disuguhi gambaran kekuatan penjelajahan samudera Kerajaan Spanyol, seperti yang pernah dilakukan Vasco da Gama dalam menemukan Semenanjung Harapan dan Columbus ketika menemukan Amerika. Padahal Umat Islam dulu adalah traveler yang tangguh, jauh ratusan tahun sebelum Vasco da Gama menemukan Semenanjung Harapan.
Islam datang dengan damai dalam semangat convivencia, semangat persatuan dalam perbedaan. Pada masa keemasannya, ketiga agama yang berbeda (Nasrani, Yahudi, dan Islam) dapat hidup secara berdampingan. Hal ini dituturkan Hanum melalui sejarah arah mimbar yang dimiliki Mezquita Cordoba. Sebenarnya mimbar yang dimiliki Mezquita tidak langsung menghadap ke arah ka’bah. Masih harus digeser sedikit lagi ke arah tenggara untuk mendapatkan posisi yang tepat. Namun jika ingin mengubah arah mimbar, gereja kecil yang terletak di dekat Mezquita harus dirobohkan, dan Sultan yang berkuasa saat itu tidak menghendaki hal tersebut karena dapat mengganggu kedamaian peribadatan umat lain. Akhirnya saat itu (dan hingga saat ini) mimbar Mezquita tidak menghadap kiblat, sehingga dulu kaum Muslim jika ingin beribadah harus menggeser posisinya sedikit ke tenggara. Begitupula Yahudi dibiarkan beribadah dengan tenang. Kita masih dapat melihat sisa perkampungan dan sinagog Yahudi, yang terletak dekat Mezquita, hingga sekarang.
Namun sayangnya, amanat hidup damai tiga agama pada peradaban Islam, tidak dilanjutkan pada masa Kerajaan Spanyol. Sepuluh tahun setelah Isabel-Ferdinand memegang tampuk kekuasaannya, Kerajaan ini melakukan pembaptisan massal pada seluruh warganya, dan mengakibatkan gambaran peradaban Islam serta agama lainnya putus dari rantai sejarah Spanyol.
Buku ini bukan hanya sekedar menggambarkan masa lalu yang gemilang dan kita menjadi terlena terhadapnya. Buku ini bukan hanya berpesan tentang romantisme masa lalu.
Those who don’t learn from history are doomed to repeat it (George Santayana)
Apa yang membuat Islam tersapu dari tanah Spanyol? Apa yang dapat kita pelajari dari masa lalu supaya kita tidak lagi terperosok dan mengulangi kesalahan yang sama di masa lampau. Islam dulu datang dengan kedamaian dan megah dengan kebijakan, ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta sistem kehidupan yang menentramkan. Kini Islam harus kembali datang, walaupun belum dalam bentuk peradaban, dengan misi yang sama yaitu rahmatan lil ‘alamin.
Peradaban Islam dulu hancur ketika yang muncul adalah ketamakan dan keegoisan. Hal ini digambarkan Hanum dalam kisah kekalahan besar yang dialami oleh Kara Mustafa Pasha, panglima Kekhalifahan Utsmani (Turki Ottoman) saat akan menaklukan Vienna. Turki Ottoman dipukul mundur oleh koalisi Austria, Jerman, dan Polandia. Sumber utama kekalahan itu adalah karena niat yang salah dari sang panglima perang, yang melakukan penyerangan semata-mata hanya untuk penaklukan yang penuh dengan kesombongan. Hingga kini, warga Austria mengenang sang panglima sebagai pembunuh yang telah memporakporandakan Vienna, dan kebencian terhadap Turki disimbolkan dengan bentuk roti croissant.
Eropa bukan hanya tempat untuk berwisata atau untuk mencari ilmu pengetahuan semata. Banyak pelajaran kehidupan yang bisa digali dari tempat ini, dan itulah yang ingin saya cari selama perjalanan 10 bulan ini. Saya ingin melihat realitas sejarah, dan mengambil banyak pelajaran dari itu. Bukan hanya untuk pergi berwisata ke tempat yang menarik dikunjungi dengan biaya semurah-murahnya. Tidak munafik memang, semua pasti ingin untuk berfoto di tempat-tempat wisata Eropa dan membeli sedikit oleh-oleh dari sana. Namun ada misi lain yang ingin saya tuju, yaitu untuk memperluas wawasan dan memperdalam keimanan. Selama kurang lebih 4 bulan saya tinggal di sini, saya mencoba belajar membuka mata dan hati tentang realitas yang selama ini mungkin tidak pernah saya sentuh. Saya belajar menerima hal-hal baru, dengan tetap merefleksikannya pada keimanan. Belajar untuk mencari hikmah dalam setiap perjalanan. Belajar untuk menjadi pribadi yang kuat dan bijak. Yang kuat menahan diri, mengalah bukan karena kalah tetapi mengalah karena sudah memetik kemenangan hakiki. Di sini saya kembali merenungkan tentang makna dan tujuan hidup. Dan saya makin menyadari ada masih banyak misteri tentang Islam yang masih terkubur di benua ini dan belum tersingkap. Ya masih banyak..
Esensi sejarah bukanlah hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu : siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan.
“Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apa pun yang kaupilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kautemukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan. Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apa pun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal” (The Alchemist-Paulo Coelho)
Semoga Allah senantiasa meluruskan niat saya, dan segera mempertemukan dengan apa yang saya cari.
Friday, December 30, 2011
Manusia & Dakwah
Pada dasarnya manusia menjalani hari-hari dalam kehidupannya untuk dua alasan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan fisik dan naluriahnya. Namun, masing-masing berbeda cara pemenuhannya tergantung cara pandangnya terhadap jalan pemenuhannya. Semua ingin menjalani dengan kebahagiaan. Masing-masing ingin mencari jalan kebenaran...
(to b continue)
(to b continue)
Wednesday, December 28, 2011
Antara yang ber-ilmu dan ber-harta
Masih belum punya passion buat belajar. Iseng-iseng buka link : www.radiopengajian.com.
Awalnya mau ngerelay MQ FM sambil packing2, tapi ternyata MQ nya sudah offline. Masih ada satu jam lagi sampai MQ siaran lagi..sambil menunggu, cari2 arsip siaran yang lain..ehh ketemu siaran tentang "Menjadi Muslimah Sumber keberkahan, bukan fitnah". Awalnya gak terlalu tertarik sama isi kajiannya..soalnya terlalu klise n ibu2 :p Tapi ada satu hal yang membuatku tergerak untuk menuangkannya kembali di blog ini yaitu terkait dengan puisinya Taufik Ismail/perkataan Ali bin
Abi Thalib ra yang dikutip oleh ustadzah dalam ceramahnya.
Intinya perkataan Ali bin Abi Thalib tersebut membandingkan antara ilmu dan harta. Jika orang sekilas membaca kutipan ini..seakan2 Islam menjauhkan seseorang untuk menjadi orang kaya, dan memerintahkan untuk membenci harta. Namun jika begitu, maka mengapa banyak sahabat Rasul yang menjadi saudagar kaya. Mengapa dikatakan bahwa 7 dari 10 pintu rizki adalah dari berdagang. Menurutku, Islam justru mendorong pemeluknya untuk menjadi orang kaya. Namun bukan kaya semata2 untuk memperkaya diri tanpa akhir. Karena definisi "kaya" sendiri itu relatif. Jika memiliki banyak harta maka memiliki banyak hak untuk diinfaqkan bukan? Maka memiliki banyak kesempatan untuk berwaqaf, umrah atau haji bukan?
Lantas mengapa Ali mengatakan hal2 yang seakan2 menegasikan antara ilmu dan harta? Menurutku, ini adalah hal yang bisa menyeimbangkan manusia dalam kehidupannya. Walaupun harta dicari, namun
bukan itu yang semata2 yang menjadi tujuan. Ilmu adalah penjaganya, yang menyeimbangkan, yang
menunjukkan untuk apa harta itu seharusnya digunakan.
Maka beruntunglah orang yang berilmu. Allah meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat. Bahkan Rasulullah mengatakan keutamaan orang yang berilmu lebih besar dibandingkan dengan orang yang gemar beribadah.
Berarti menjadi orang berilmu, yang kaya, gemar beribadah dan bahagia..jauuh lebih dicintai oleh Allah kan yaa ;)
Awalnya mau ngerelay MQ FM sambil packing2, tapi ternyata MQ nya sudah offline. Masih ada satu jam lagi sampai MQ siaran lagi..sambil menunggu, cari2 arsip siaran yang lain..ehh ketemu siaran tentang "Menjadi Muslimah Sumber keberkahan, bukan fitnah". Awalnya gak terlalu tertarik sama isi kajiannya..soalnya terlalu klise n ibu2 :p Tapi ada satu hal yang membuatku tergerak untuk menuangkannya kembali di blog ini yaitu terkait dengan puisinya Taufik Ismail/perkataan Ali bin
Abi Thalib ra yang dikutip oleh ustadzah dalam ceramahnya.
Intinya perkataan Ali bin Abi Thalib tersebut membandingkan antara ilmu dan harta. Jika orang sekilas membaca kutipan ini..seakan2 Islam menjauhkan seseorang untuk menjadi orang kaya, dan memerintahkan untuk membenci harta. Namun jika begitu, maka mengapa banyak sahabat Rasul yang menjadi saudagar kaya. Mengapa dikatakan bahwa 7 dari 10 pintu rizki adalah dari berdagang. Menurutku, Islam justru mendorong pemeluknya untuk menjadi orang kaya. Namun bukan kaya semata2 untuk memperkaya diri tanpa akhir. Karena definisi "kaya" sendiri itu relatif. Jika memiliki banyak harta maka memiliki banyak hak untuk diinfaqkan bukan? Maka memiliki banyak kesempatan untuk berwaqaf, umrah atau haji bukan?
Lantas mengapa Ali mengatakan hal2 yang seakan2 menegasikan antara ilmu dan harta? Menurutku, ini adalah hal yang bisa menyeimbangkan manusia dalam kehidupannya. Walaupun harta dicari, namun
bukan itu yang semata2 yang menjadi tujuan. Ilmu adalah penjaganya, yang menyeimbangkan, yang
menunjukkan untuk apa harta itu seharusnya digunakan.
-Ilmu selalu menjaga orang yang mempunyainya, sedangkan harta dijaga oleh orang yang mempunyainya.
-Orang yang berilmu banyak mempunyai teman, sedangkan orang yang berharta mempunyai banyak lawan.
-Ilmu apabila diberikan kepada orang lain akan bertambah sedangkan harta bila diberikan akan berkurang.
-Pemilik ilmu akan menerima syafaat pada hari kiamat, sedangkan pemilik harta akan dimintai pertanggungjawabannya diakhirat kelak.
-Ilmu apabila disimpan tidak akan habis, sedangkan harta bila disimpan akan usang dan lapuk.
-Ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, sedangkan harta selalu dijaga dari kejahatan.
-Ilmu akan menyinari hati hingga menjadi terang dan tenteram,sedangkan harta akan mengeraskan setiap hati manusia.
Maka beruntunglah orang yang berilmu. Allah meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat. Bahkan Rasulullah mengatakan keutamaan orang yang berilmu lebih besar dibandingkan dengan orang yang gemar beribadah.
Berarti menjadi orang berilmu, yang kaya, gemar beribadah dan bahagia..jauuh lebih dicintai oleh Allah kan yaa ;)
Sunday, December 11, 2011
If I were a MOM...
Dear diary..
Senin..12 Desember 2011 1:07
Masih belum juga bisa tidur, padahal hari ini jam 8.30 ada kuliah. It means harus berangkat jam 7.30 (nasib pejalan kaki)..it means minimal jam 6.30 udah harus siap2. padahal subuh baru j 6.37. sunrise baru jam 8.37 :D
j11 tadi ada party temen satu lantai di kitchen kita tercinta..gak lama2 juga sii..jam stg1 uda masuk kamar lagi. cuma makan kue, coke n camomile tea..tapi tetep aja sampai sekarang belum bisa bobo T.T
Dan sekarang mending nulis aja dee..nulis tentang cita2 menjadi ibu ^^ .. profesi yang menurutku profesi paling mulia di dunia. Kenapa tiba2 nulis tentang ini? karena hari ini begitu terinspirasi dengan cerita seorang ibu di blog ini : http://westernmom-easternworld.tumblr.com . Cerita seorang Amerika yang menikah dengan orang Indonesia-seorang anak gembala kerbau peranakan sumatra, yang kini berprofesi menjadi pastur sekaligus mahasiswa s3. Ya, ibu itu adalah istri seorang pastur. Dan dia rela hidup sederhana di sebuah kota di pelosok kota Yogyakarta. Dia sangat menikmati setiap waktu yang ia habiskan bersama anak dan suaminya. Agak heran juga seorang wanita Amerika bisa berpikir seperti ini.
Walaupun jalan keimanan kita berbeda, namun banyak hal yang kukagumi dari dia, terlebih soal kesederhanaannya. Ia tidak canggung berbicara dengan si mbah2 petani. Anaknya pun sering diajak bermain di ladang tetangga. Bermain bola bersama tetangga, dan memanjat pohon jambu. Selepas suaminya mendapat gelar s3 pun, tujuan mereka adalah kembali ke tanah sumatra dan mendirikan sekolah di sana. How sweet ^^
And if I were a MOM one day..i wanna be like her. Ingin menikmati setiap detik bersama anakku kelak. Mulai dari merasakan denyut jantungnya di perutku, berjuang mengantarkannya di dunia secara normal, mendekapnya pertama kali di dadaku, melihatnya tumbuh hingga bisa berjalan dan berlari. Mengajarkannya kata bunda dan ayah. Mengajarkannya berhitung. Mengajarkannya menggambar. Mengajarkannya tentang warna dan bentuk. Menyanyi bersamanya
Serta melihatnya bermain bola di lapangan luas bersama ayahnya. Bermain perang indian dengannya..sedang aku ada di sisi lain..tersenyum dan melihat mereka melalui lensa kameraku.
Ahh, betapa bahagianya ^^ .. I hope one day I could..one day
Senin..12 Desember 2011 1:07
Masih belum juga bisa tidur, padahal hari ini jam 8.30 ada kuliah. It means harus berangkat jam 7.30 (nasib pejalan kaki)..it means minimal jam 6.30 udah harus siap2. padahal subuh baru j 6.37. sunrise baru jam 8.37 :D
j11 tadi ada party temen satu lantai di kitchen kita tercinta..gak lama2 juga sii..jam stg1 uda masuk kamar lagi. cuma makan kue, coke n camomile tea..tapi tetep aja sampai sekarang belum bisa bobo T.T
Dan sekarang mending nulis aja dee..nulis tentang cita2 menjadi ibu ^^ .. profesi yang menurutku profesi paling mulia di dunia. Kenapa tiba2 nulis tentang ini? karena hari ini begitu terinspirasi dengan cerita seorang ibu di blog ini : http://westernmom-easternworld.tumblr.com . Cerita seorang Amerika yang menikah dengan orang Indonesia-seorang anak gembala kerbau peranakan sumatra, yang kini berprofesi menjadi pastur sekaligus mahasiswa s3. Ya, ibu itu adalah istri seorang pastur. Dan dia rela hidup sederhana di sebuah kota di pelosok kota Yogyakarta. Dia sangat menikmati setiap waktu yang ia habiskan bersama anak dan suaminya. Agak heran juga seorang wanita Amerika bisa berpikir seperti ini.
Walaupun jalan keimanan kita berbeda, namun banyak hal yang kukagumi dari dia, terlebih soal kesederhanaannya. Ia tidak canggung berbicara dengan si mbah2 petani. Anaknya pun sering diajak bermain di ladang tetangga. Bermain bola bersama tetangga, dan memanjat pohon jambu. Selepas suaminya mendapat gelar s3 pun, tujuan mereka adalah kembali ke tanah sumatra dan mendirikan sekolah di sana. How sweet ^^
And if I were a MOM one day..i wanna be like her. Ingin menikmati setiap detik bersama anakku kelak. Mulai dari merasakan denyut jantungnya di perutku, berjuang mengantarkannya di dunia secara normal, mendekapnya pertama kali di dadaku, melihatnya tumbuh hingga bisa berjalan dan berlari. Mengajarkannya kata bunda dan ayah. Mengajarkannya berhitung. Mengajarkannya menggambar. Mengajarkannya tentang warna dan bentuk. Menyanyi bersamanya
Serta melihatnya bermain bola di lapangan luas bersama ayahnya. Bermain perang indian dengannya..sedang aku ada di sisi lain..tersenyum dan melihat mereka melalui lensa kameraku.
Ahh, betapa bahagianya ^^ .. I hope one day I could..one day
Miss Susanti..Miss Annoying
Dear diary..
Hampir tiga bulan ada di sini. Gak kerasa memang, mulai bisa beradaptasi. Mulai gak amazed lagi sama berbagai hal baru yang ada di sini. Dan yang pasti, mulai gak merasa jadi turis atau benda asing di sini :)
Kalau ditanya sama orang, apa sih tujuan kamu ikut exchange? Ngapain buang2 waktu 10 bulan, mending kamu nyelesein s2 kamu secepatnya trus cari kerja atau nikah atau phd. Well, to be honest awalnya ikut erasmus exchange karena ngerasa ini adalah kesempatan emas yang gak dateng dua kali dalam hidup. Siapa yang tau jalan rizki ke depannya kan. At least kalo ikut exchange ini, jadi punya kesempatan naik pesawat for the 1st time ( i mean it..indeed :D), nginjek tanah eropa, punya temen bule satu dua orang, diajar sama dosen bule, dan ngeliat suasana plus pengalaman baru. Jadi kalo ditanya apa yang mau raih di momen exchange ini..pasti akan saya jawab : "networking" & "traveling". Saya bukan orang yang suka belajar, bukan juga punya otak cemerlang. Tapi saya juga bukan orang yang bisa cocok ke berbagai karakter orang, bukan tipe penjilat ataupun yang bisa memeriahkan suasana. Sebelum saya berusaha dekat kepada seseorang, otak kanan saya biasanya akan menganalisis karakter orang ini secara general. Dan entah kenapa otak saya ini sangat sensitif dengan "aura2 tidak tulus" ataupun "kepura2an" dari seseorang. Makanya walaupun sering dipaksa, toh akhirnya gak bisa juga deket sama orang2 jenis ini.
Memang tidak boleh menjudge orang dari permukaan, hanya saja seperti yang saya tulis sebelumnya, seringkali ini muncul dengan sendirinya. Dan seringkali insting ini sangat berguna sebagai bekal menjadi guru atau HRD dulu. Setiap orang itu memang berbeda, dan tidak semua yang ditampakkan itu adalah lukisan dari hati seseorang.
Ini juga yang mendasari tujuan traveling saya. Bagi saya traveling bukan hanya berarti pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi, namun juga pergi bersama karakter orang yang berbeda. Pikiran dan perasaan manusia itu bagai laut..semakin kita mendalami, semakin banyak yang bisa kita lihat dalam hidup ini.
Hubungannya tulisan ini sama judulnya..hmm, sebenarnya miss susanti adalah julukan yang diberikan beberapa orang pada saya di awal2 masa kedatangan dulu. Susanti adalah nama terakhir saya..yaa kalau di sini bisa dikatakan sebagai nama keluarga. Biasanya nama ini akan saya perkenalkan kepada orang2 asing yang susah menyebutkan nama saya. Lantas apa hubungannya susanti dengan annoying..seperti yang saya katakan networking adalah salah satu tujuan saya datang ke sini. Saya rasa, ada lebih banyak pelajaran yang saya dapat dalam hidup ketika saya berkenalan dengan orang baru, selain dengan membaca buku baru pula. Dan entah mengapa, terkadang berhubungan dekat dengan orang non-indonesia lebih menyenangkan #no-offense. Mungkin ini masalah karakter yang ditemui. Mereka lebih terbuka, kritis, dan yang pasti tidak suka menggunjing di belakang.
Yang lalu biarlah berlalu .. punya seribu atau dua ribu teman rasanya tidak akan pernah cukup mengganti satu musuh saja yang kamu miliki. seperti yang ditulis dianarikasari dlm blognya :
Hadapi saja semua dengan keikhlasan dan senyuman :)
Hampir tiga bulan ada di sini. Gak kerasa memang, mulai bisa beradaptasi. Mulai gak amazed lagi sama berbagai hal baru yang ada di sini. Dan yang pasti, mulai gak merasa jadi turis atau benda asing di sini :)
Kalau ditanya sama orang, apa sih tujuan kamu ikut exchange? Ngapain buang2 waktu 10 bulan, mending kamu nyelesein s2 kamu secepatnya trus cari kerja atau nikah atau phd. Well, to be honest awalnya ikut erasmus exchange karena ngerasa ini adalah kesempatan emas yang gak dateng dua kali dalam hidup. Siapa yang tau jalan rizki ke depannya kan. At least kalo ikut exchange ini, jadi punya kesempatan naik pesawat for the 1st time ( i mean it..indeed :D), nginjek tanah eropa, punya temen bule satu dua orang, diajar sama dosen bule, dan ngeliat suasana plus pengalaman baru. Jadi kalo ditanya apa yang mau raih di momen exchange ini..pasti akan saya jawab : "networking" & "traveling". Saya bukan orang yang suka belajar, bukan juga punya otak cemerlang. Tapi saya juga bukan orang yang bisa cocok ke berbagai karakter orang, bukan tipe penjilat ataupun yang bisa memeriahkan suasana. Sebelum saya berusaha dekat kepada seseorang, otak kanan saya biasanya akan menganalisis karakter orang ini secara general. Dan entah kenapa otak saya ini sangat sensitif dengan "aura2 tidak tulus" ataupun "kepura2an" dari seseorang. Makanya walaupun sering dipaksa, toh akhirnya gak bisa juga deket sama orang2 jenis ini.
Memang tidak boleh menjudge orang dari permukaan, hanya saja seperti yang saya tulis sebelumnya, seringkali ini muncul dengan sendirinya. Dan seringkali insting ini sangat berguna sebagai bekal menjadi guru atau HRD dulu. Setiap orang itu memang berbeda, dan tidak semua yang ditampakkan itu adalah lukisan dari hati seseorang.
Ini juga yang mendasari tujuan traveling saya. Bagi saya traveling bukan hanya berarti pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi, namun juga pergi bersama karakter orang yang berbeda. Pikiran dan perasaan manusia itu bagai laut..semakin kita mendalami, semakin banyak yang bisa kita lihat dalam hidup ini.
Hubungannya tulisan ini sama judulnya..hmm, sebenarnya miss susanti adalah julukan yang diberikan beberapa orang pada saya di awal2 masa kedatangan dulu. Susanti adalah nama terakhir saya..yaa kalau di sini bisa dikatakan sebagai nama keluarga. Biasanya nama ini akan saya perkenalkan kepada orang2 asing yang susah menyebutkan nama saya. Lantas apa hubungannya susanti dengan annoying..seperti yang saya katakan networking adalah salah satu tujuan saya datang ke sini. Saya rasa, ada lebih banyak pelajaran yang saya dapat dalam hidup ketika saya berkenalan dengan orang baru, selain dengan membaca buku baru pula. Dan entah mengapa, terkadang berhubungan dekat dengan orang non-indonesia lebih menyenangkan #no-offense. Mungkin ini masalah karakter yang ditemui. Mereka lebih terbuka, kritis, dan yang pasti tidak suka menggunjing di belakang.
Yang lalu biarlah berlalu .. punya seribu atau dua ribu teman rasanya tidak akan pernah cukup mengganti satu musuh saja yang kamu miliki. seperti yang ditulis dianarikasari dlm blognya :
Do you guys have enemies? Having enemies in life is such a sad thing. Even though I don't hate anyone, I know that there are people out there who hate me. Therefore, I am an enemy to them, while they aren't to me. I often feel sad when I think about this, but then I realized that if I'm an enemy to someone, it doesn't always mean that I'm the bad one. It might be that that someone is the one having issues in dealing with life and reality. If you hate someone, doesn't that mean you have no room in your heart to forgive? Or no space in your mind to tolerate & compromise? Therefore, those who be-enemy others are the ones not owning big hearts, and that's even sadder
Hadapi saja semua dengan keikhlasan dan senyuman :)
Tuesday, December 06, 2011
Unblocked
twitter - removed - blocked
facebook - removed - blocked
ym - deleted - blocked
gtalk - deleted - blocked
e-mail - blocked
heart - removed...failed..blocked..failed :'(
Tuesday, November 29, 2011
Everybody's changing
"You're aching, you're breaking
And I can see the pain in your eyes
Says everybody's changing
And I don't know why
So little time
Try to understand that I'm
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody's changing
And I don't feel the same
(Keane-everybody's changing"
Hari ini, rencananya mau mengerjakan laporan -yang masih belum selesai- yang akan dikumpul esok hari -.- .. belum sempat mengerjakan, tiba2 search engine ku memperlihatkan link sebuah portal islami (yang sangat jadul)..MyQu***. Entah mengapa layar netbookku pun terdampar pada hamparan web itu, dan menemukan tulisan2 seorang teman yang terakhir kujumpai 5 bulan yang lalu. Keterangan di tulisan2 itu menyatakan bahwa temanku itu aktif menulis di portal tersebut semenjak 2009-2010. Kucermati tulisan demi tulisan itu. Ada idealisme di sana, ada keimanan, ada penantian, ada harapan. Lalu kuingat-ingat lagi kondisi temanku itu 5 bulan yang lalu. Nampak jauh dari yang kulihat dari tulisan2nya. Apakah selama ini dia menutupi sifatnya sesungguhnya? Ataukah memang Jakarta telah mengubahnya menjadi orang yang berbeda. Begitu cepatkah orang bisa berubah Tuhanku? Orang yang awalnya kukagumi dan kuteladani, berubah menjadi orang yang paling kubenci.
Ahh, aku tau aku tidak boleh membencinya, aku hanya tidak suka dengan perilakunya. Begitulah orang bisa berubah. Dan mungkin saja kini aku juga berubah menjadi orang yang berbeda. Who knows? :)
Rabbi, jagalah selalu kami. Aamiin..
And I can see the pain in your eyes
Says everybody's changing
And I don't know why
So little time
Try to understand that I'm
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody's changing
And I don't feel the same
(Keane-everybody's changing"
Hari ini, rencananya mau mengerjakan laporan -yang masih belum selesai- yang akan dikumpul esok hari -.- .. belum sempat mengerjakan, tiba2 search engine ku memperlihatkan link sebuah portal islami (yang sangat jadul)..MyQu***. Entah mengapa layar netbookku pun terdampar pada hamparan web itu, dan menemukan tulisan2 seorang teman yang terakhir kujumpai 5 bulan yang lalu. Keterangan di tulisan2 itu menyatakan bahwa temanku itu aktif menulis di portal tersebut semenjak 2009-2010. Kucermati tulisan demi tulisan itu. Ada idealisme di sana, ada keimanan, ada penantian, ada harapan. Lalu kuingat-ingat lagi kondisi temanku itu 5 bulan yang lalu. Nampak jauh dari yang kulihat dari tulisan2nya. Apakah selama ini dia menutupi sifatnya sesungguhnya? Ataukah memang Jakarta telah mengubahnya menjadi orang yang berbeda. Begitu cepatkah orang bisa berubah Tuhanku? Orang yang awalnya kukagumi dan kuteladani, berubah menjadi orang yang paling kubenci.
Ahh, aku tau aku tidak boleh membencinya, aku hanya tidak suka dengan perilakunya. Begitulah orang bisa berubah. Dan mungkin saja kini aku juga berubah menjadi orang yang berbeda. Who knows? :)
Rabbi, jagalah selalu kami. Aamiin..
Those who expect moments of change to be comfortable and free of conflict have not learned their history. ~Joan Wallach Scott
Subscribe to:
Posts (Atom)



