Wednesday, May 20, 2009

Perempuan dan Perubahan (part 4)

catatanku hari ini...
Mencari Solusi Shahih : Sistem Islam Saja
Adanya permasalahan yang terjadi di masyarakat tersebut tidaklah sebatas dikarenakan oleh ketimpangan gender, tetapi karena sistem kehidupan yang diterapkan. Feminisme lahir sebagai reaksi diterapkannya sistem kapitalis, maka seharusnya salahkanlah kapitalisme atas seluruh permasalahan tersebut! Seharusnya solusi yang ditawarkan feminis untuk menyelesaikan masalah perempuan adalah dengan mengubah sistem kapitalis, bukan justru solusi yang melanggengkan sistem tersebut. Sistem kehidupan yang dibuat manusia tidak akan pernah menunjukkan solusi dan memberikan kesejahteraan bagi manusia. Hanya solusi dari Sang Pencipta lah yang mampu memberikan keselarasan dan keteraturan bagi seluruh makhluk-Nya. Aturan Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, seluruh manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
Adapun kesetaraan gender yang selama ini diperjuangkan oleh para feminis adalah sesuatu yang tidak perlu diperjuangkan dalam Islam. Allah telah menciptakan potensi manusia yang sama kepada seluruh manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Masing-masing memiliki potensi akal dan naluriah yang sama. Derajat perbedaannya hanyalah ditentukan oleh ketaqwaannya saja. Tidak ada yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Sementara dalam posisinya sebagai laki-laki dan perempuan, Allah telah menetapkan seperangkat fungsi yang berbeda antara keduanya. Dalam hal ini, merupakan keadilan ketika Allah menetapkan adanya pembedaan dalam hal penetapan hukum antara laki-laki dan perempuan. Masing-masing memiliki fungsi dan peran yang berbeda dalam masyarakat sesuai dengan potensinya.

“Sesungguhnya kaum wanita adalah setara dengan kaum pria” (HR Abu Dawud dan An Nasa’i)
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS Nisa 32)

Islam menetapkan bahwa peran utama wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Pada diri perempuan, Allah menciptakan kemampuan reproduksi dan fungsi penentu keberlangsungan jenis manusia. Sejumlah hukum yang berkaitan dengan kehamilan, kelahiran, penyusuan, pemeliharaan bayi, maupun ‘iddah diberikan kepada wanita, bukan pria. Allah juga telah menjadikan tugas wanita adalah mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anaknya. Ini adalah tugas yang berat dan penting, tidak ringan dan tidak mudah, sekaligus mulia yang harus ditunaikan oleh wanita dengan persiapan fisik, kejiwaan, dan pikiran yang mendalam. Wanita berperan pokok sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, karena dengan perannya sebagai ibu, kelestarian manusia dapat dipertahankan dan perannya sebagai pengatur rumah tangga akan menciptakan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Hanya saja, hal ini bukan berarti wanita diharamkan untuk beraktivitas di sektor publik. Wanita diperbolehkan untuk beraktivitas dan berinteraksi di sektor publik, bahkan seorang muslimah wajib untuk turut melakukan aktivitas politik. Karena dalam perspektif Islam, politik (siyasah) mempunyai makna mengatur urusan umat, baik dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh negara dan masyarakat. Negara mengurusi kepentingan masyarakat dan sebaliknya masyarakat melakukan koreksi dan kontrol terhadap negara. Jadi politik perempuan tidak lain merupakan aktivitas yang dilakukan kaum perempuan dalam menjalankan tugas pengurusan urusan umat baik dalam dan luar negeri.

Siapa saja yang tidak berada di waktu pagi dan petang selaku pemberi nasihat bagi Allah dan Rasul-Nya, bagi kitab-Nya, bagi pemimpinnya, dan bagi kaum Muslimin, berarti ia bukan termasuk di antara mereka”(HR.ath-Thabrani)
Sehingga meskipun banyak aktivitas lain yang dibebankan di pundak wanita seperti aktivitas politik , tetaplah ia harus menjalankan fungsinya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa datang seorang wanita, Asma binti Yazid al-Asyhaliyah, yang mewakili kaumnya kepada Rasulullah. Ia menanyakan kedudukan dan tugasnya sebagai wanita kepada Rasul yang mulia.

“Demi bapakku, engkau dan ibuku, wahai Rasulullah. Aku adalah utusan para wanita kepadamu. Sesungguhnya belum ada seorang wanita pun, baik di timur maupun barat, yang terdengar darinya ungkapan seperti apa yang akan aku ungkapkan, atau belum terdengar seorang pun yang mengemukakan seperti pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada laki-laki dan wanita seluruhnya, hingga kami beriman kepadamu dan Tuhanmu. Akan tetapi, sesungguhnya kami, para wanita terbatasi dan terkurung oleh dinding-dinding kalian (para lelaki), memenuhi syahwat kalian, dan mengandung anak-anak kalian. Sesungguhnya kalian, wahai para lelaki, mempunyai kelebihan daripada kami dengan berkumpul dan berjamaah, melakukan kunjungan kepada orang sakit, dan menyaksikan jenazah, menunaikan ibadah haji demi ibadah haji, dan yang lebih mulia lagi dibandingkan semua itu, jihad di jalan Allah. Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian keluar untuk menunaikan ibadah haji, menghadiri pertemuan, atau berjaga di perbatasan, kamilah yang menjaga harta kalian; yang mencucikan pakaian kalian; dan menjaga anak-anak kalian. Lalu apakah ada kemungkinan bagi kami untuk menyamai kalian (para lelaki) dalam kebaikan, wahai Rasulullah?”
Kemudian Rasulullah menoleh kepada para shahabat seraya berkata “Apakah kalian mendengar perkataan wanita ini ? Sungguh, adakah yang lebih baik daripada apa yang diungkapkannya berkaitan dengan urusan agamanya ini ?” Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka bahwa wanita ini tertunjuki kepada perkataan tersebut” Rasulullah lalu menoleh kepada wanita tersebut seraya berkata, “Pergilah kepada wanita mana saja dan beritahukanlah mereka yang ada di belakangmu, bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (para wanita) dalam memperlakukan suaminya, memperoleh keridhaan suaminya, dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan semua itu (yang dilakukan pria.red)”. Mendengar sabda Rasul wanita itu pun pergi seraya bersuka cita. Ia kemudian menyampaikan kabar tersebut kepada suaminya. (HR. Baihaqi)

Ketika lahir ke dunia, tak pernah seorang pun meminta untuk menjadi laki-laki atau perempuan. Bahkan menjadi seorang manusia pun adalah nikmat yang tiada terkira. Apapun gender kita, menjadi manusia adalah sebuah kemuliaan dan kesempatan untuk meraih kebahagiaan kekal di akhirat. Tak kenal batas waktu dan terbebas dari ketidaksempurnaan.

Labels:

posted by Rany Agustina @ 8:46 AM   1 Comments Links to this post

Perempuan dan Perubahan (part 3)

catatanku hari ini...
Kebahayaan KKG
Untuk mencapai kesetaraan ideal, dalam bidang pendidikan, isu KKG mengarah pada kemandirian perempuan dalam pengambilan kebijakan publik. Bidang pendidikan ini diharapkan menjadi sarana penyadaran terhadap KKG. Pendidikan yang selama ini dijalankan senantiasa mengarah pada stereotip feminin bagi perempuan dan maskulin bagi laki-laki. Pendidikan inilah yang dianggap mengokohkan struktur masyarakat yang bersifat stereotip gender. Dengan pendidikan bebas gender (androgini), lambat laun akan dapat dihilangkan sifat feminin pada perempuan. Sebagai dasar pembentuk kepribadian yang bebas gender, mulai disosialisasikan Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Gender.

Di bidang kesehatan, perempuan diarahkan pada kebebasan dalam menentukan hak reproduksinya sendiri. Perempuan tidak lagi menjadikan kehamilan sebagai faktor penghambat aktivitas publik, dengan adanya alat kontrasepsi, aborsi aman, dll. Dengan isu kesehatan pula, legalisasi seks bebas dikuatkan melalui program kondomisasi dengan dalih mencegah HIV/AIDS dan program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Remaja diarahkan untuk mampu melakukan hubungan seks yang aman. Yang dimaksud dengan “aman” adalah secara mandiri remaja putri mampu menggunakan kontrasepsi yang aman tanpa takut hamil, sementara aktivitas seksual mereka tidak terhambat. Hubungan seks yang aman adalah yang mampu mencegah mereka dari penyakit-penyakit menular seksual, seperti syphilis, gonorhoea, dan HIV AIDS. Adanya shelter-shelter bagi kesehatan reproduksi remaja, dianggap menjadi cara yang ramah dan nyaman bagi remaja untuk mengamankan perilaku seks bebasnya.

Kemandirian perempuan dalam ekonomi, sekaligus dukungan terhadap kesehatan reproduksinya tanpa batasan yang jelas, secara bertahap akan membuat perempuan tidak lagi mementingkan institusi keluarga. Di negara-negara pelopor kebebasan perempuan seperti Amerika, single parent banyak menjadi pilihan para perempuan yang berkarir. Pernikahan tidak lagi penting. Seks bebas menjadi solusi hak reproduksi perempuan.

Di Indonesia, acuan program-program gender yang tertuang dalam BPFA, CEDAW, MDGs, dan ICPD menghasilkan berbagai UU yang berpotensi besar menghancurkan nilai-nilai Islam, mulai dari ranah keluarga melalui UU KDRT (ada upaya menggunting aturan Islam; ketaatan istri terhadap suami), penghancuran tatanan masyarakat dengan legalisasi aborsi melalui rancangan Amandemen UU Kesehatan No.23 tahun 1992, legalisasi seks bebas dengan program kondomisasi dengan dalih mencegah HIV AIDS, program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), kuota 30% perempuan dalam partai politik, parlemen, birokrasi, dll.
Selain itu, faktor agama yang dianggap menghambat tercapainya KKG karena mendukung stereotip gender juga diserang untuk dihancurkan. Di antaranya melalui CLD-KHI (Counter Legal Draft-Kompilasi Hukum Islam) yang digagas oleh Siti Musdah Mulia. Sangat jelas adanya konspirasi penghancuran hukum-hukum Islam di balik CLD-KHI ini hingga Menteri Agama Maftuh Basyuni membatalkan langsung dan melarang penyebarannya. Majelis Ulama Indonesia menyebut CLD-KHI sebagai upaya memanipulasi nash-nash Qur’an. Hal ini dikarenakan di dalam CLD-KHI disebutkan bahwa pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah, anak kecil bebas memilih agamanya sendiri, dll.
KKG : Menjadi Solusikah?
Realitas kondisi perempuan yang memilukan merupakan suatu hal yang tak terelakkan. Hanya saja sangat tidak tepat jika kita melihat penyebab permasalahan tersebut hanyalah karena terjadinya ketimpangan gender. Tanpa bermaksud menafikan masalah dan presentase korban wanita yang besar, akan tetapi pada hakikatnya realita permasalahan tersebut bukan hanya dihadapi oleh perempuan saja, melainkan juga laki-laki. Adalah suatu pemikiran yang sangat sempit jika menganggap bahwa akar permasalahannya hanya terletak karena adanya ketimpangan gender. Kita harus melihat realitas tersebut sebagai suatu permasalahan kemanusiaan dan masalah kehidupan, bukan hanya masalah wanita. Fokus kritik kita bukanlah pada ada atau tidak adanya masalah, namun lebih kepada bagaimana feminisme, sebagai sebuah gerakan dan cara pandang, menjelaskan masalah tersebut kemudian menawarkan solusi-solusi tertentu.

Kerancuan ide feminis
Ide merupakan reaksi dari realitas sosial, tidak ada yang lahir dari ruang hampa. Tanpa bermaksud melakukan simplifikasi terhadap masalah, tampak jelas hubungan antara ideologi yang diterapkan sebuah negara-sebagai warna setiap kebijakan dan peraturan yag dikeluarkan - dengan gerakan atau paham feminisme sebagai suatu aksi-reaksi dan sebuah konsekuensi logis dari penerapan suatu sistem. Jika kita ingin mengkritisi relevansi sebuah pemikiran dalam masyarakat, maka juga harus dilakukan analisis terhadap ideologi yang membidani kelahirannya.
Feminisme lahir dalam konteks sosio-historis khas barat (abad 19-20) ketika wanita tertindas oleh sistem masyarakat sekuler-liberal yang cenderung eksplotitatif. Sehingga sangat tidak tepat jika mentransfer ide ini ke tengah lingkungan tanpa memperhatikan aspek sosio-historisnya. Pendapat universalitas sosiologi merupakan suatu bentuk kepongahan yang justru menimbulkan dilema baru yang juga tidak dapat ditemukan realitasnya.
Feminisme bersifat sekuleristik- karena lahir di era kapitalis, sehingga tidak memasukkan wewenang Tuhan. Keterbatasan akal manusia untuk memahami masalah yang sebenarnya dan untuk mengetahui apakah masalah tersebut dapat dianggap sebagai representasi masalah manusia secara umum, mengakibatkan hukum-hukum yang dibuat di dunia Barat justru tidak pernah memiliki akurasi yang rigid ketika menghadirkan solusi. Yang terjadi adalah trial and error. Konsensus-konsensus sosial yang dihasilkan berubah-ubah sesuai dengan waktu dan zaman. Keadilan dan ukuran kebahagiaannya hanyalah ditentukan dari materi.
Feminisme memandang perempuan sebagai individu yang keberadaannya terlepas dari harmonisasi kehidupan manusia. Jika laki-laki bebas memilih peran yang akan dilakukannya dalam kancah kehidupan, maka perempuan pun memiliki kebebasan yang serupa. Para feminis dengan cara pandang yang individualistik dan emosional telah menempatkan persoalan perempuan seolah terpisah dari persoalan masyarakat secara keseluruhan. Akibatnya pemecahan yang disodorkan hanyalah melulu dilihat dari satu perspektif saja. Padahal masyarakat bukanlah merupakan kumpulan individu yang terpisah. Di dalamnya terdapat interaksi antar individunya, pemikiran dan perasaan yang terlahir darinya, serta aturan yang diterapkan untuk mengatur keberjalanan hubungan tersebut. Para feminis telah gagal melihat potensi unik yang telah Allah ciptakan masing-masing berbeda pada laki-laki dan perempuan. Masing-masing memiliki perbedaan fisiologis dan psikologis yang membuatnya saling melengkapi, bukan menggantikan.
Dalam sistem kapitalis, modal merupakan hal yang paling berpengaruh. Begitupun dalam pemerintahan, nuansa subjektivitas terasa pada para pemilik modal. Pada tataran ini, wanita dengan porsi besarnya pada sektor domestik merupakan pihak yang paling dirugikan. Karena itu, para wanita yang umumnya memiliki tingkat pendidikan yang memadai, memprakarsai para wanita sedunia untuk terlibat aktif dalam upaya mengambil kebijakan-kebijakan politik agar mereka tidak lagi menjadi pihak yang terkorbankan. Politik dalam perspektif feminis selalu diartikan sebagai kekuasaan dan legislasi. Akibatnya ide pemberdayaan peran publik perempuan melalui jalur politik selalu diarahkan untuk menjadikan kaum perempuan mampu menempatkan diri dan berkiprah di elit kekuasaan, lembaga legislasi, atau minimal berani memperjuangkan aspirasinya sendiri secara independen tanpa pengaruh atau tekanan pihak manapun. Maka, para penggiat feminis, selalu mempermasalahkan kuantitas perempuan yang duduk dalam lembaga legislasi. Keterwakilan aspirasi perempuan tercermin dengan banyaknya jumlah yang dapat duduk pada badan-badan tinggi negara yang membuat undang-undang.
Akan tetapi benarkan dengan meningkatnya kuota perempuan di lembaga legistlatif maka kesejahteraan perempuan akan terwujud ? Benarkah dengan mengeluarkan seluruh wanita ke sektor publik dan mengabaikan sektor domestik, menandakan kemajuan suatu negeri? Realitas yang terjadi di Uni Soviet dan Skandinavia merupakan suatu bukti kegagalan solusi yang ditawarkan feminisme. Gemilangnya upaya pemerintahan Skandinavia membuat para wanita bekerja di luar rumah memiliki dampak yang sangat besar berupa runtuhnya institusi keluarga dan semakin amburadulnya jalinan antar anggota keluarga. Seperti yang dilansir majalah Hidayatullah edisi Desember 2003, di Swedia terjadi peningkatan angka perceraian dari 20% (1960) menjadi 58,8% (2001). Demikian juga dengan jumlah anak yang lahir di luar nikah, dari 11% (1960) menjadi 56% (2001).
Beberapa masalah sosial lain pun bermunculan seperti angka bunuh diri di Swedia yang mencapai 1.546 kasus (2001), atau setidaknya ada 5 orang yang mati bunuh diri setiap harinya, sebagian besar dilakukan oleh orang yang berusia produktif. Kriminalitas yang melibatkan anak-anak di Negara Denmark, Swedia, dan Norwegia meningkat 400% dari tahun 1950 dan 1970an.
Begitupun di Indonesia, solusi kondomisasi untuk mencegah penyebaran HIV AIDS tidak berpengaruh positif. Alih-alih menyelesaikan, yang timbul justru masalah baru. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) mengakui gagal dalam menanggulangi masalah penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Terhitung sejak krisis moneter terjadi di Tanah Air pada tahun 1998 berbeda dengan sejumlah negara berkembang lain, penderita HIV/AIDS di Indonesia malah terus bertambah dari tahun ke tahun hingga kini (www.kespro.com, 2008). Mengutip data Departemen Kesehatan terbaru. KPAN melaporkan, sampai akhir Juni 2008 terdapat penambahan kasus AIDS sejumlah 2947 orang pada tahun 2007. Dan terdapat 1546 kasus pada 4 bulan pertama tahun 2008.
Lost Generation merupakan ongkos yang harus dibayar mahal oleh solusi yang diterapkan para feminis. Masihkah harus berharap pada solusi ini ?

Labels:

posted by Rany Agustina @ 8:46 AM   0 Comments Links to this post

Perempuan dan Perubahan (part 2)

catatanku hari ini...

Agenda Pemberdayaan Perempuan

Banyak pihak menganggap bahwa akar permasalahan yang dihadapi wanita Indonesia tersebut diakibatkan oleh adanya dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Menurut Eri Seda (dosen FISIP UI), hal ini merupakan pengaruh sistem budaya masyarakat Indonesia yang umumnya patriarkal. Masalah perempuan haruslah diselesaikan oleh perempuan karena merekalah yang merasakannya, bukan laki-laki.

Berbagai upaya dan agenda nasional maupun internasional telah ditempuh untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh ketimpangan gender ini. Pada tahun 1963, Gerakan Global Emansipasi masuk dalam agenda PBB. Tahun 1967, terbentuk Commission on The Status of the Women, yang mulai memperhatikan secara khusus status dan isu-isu perempuan. Selanjutnya PBB menggelar konferensi yang pertama tentang perempuan tahun 1975 yang berlangsung di Mexico City. Tahun ini dicanangkan sebagai Tahun Internasional Perempuan. Isu perempuan pun mulai menapaki panggung perhatian dunia. Pada tahun ini peran perempuan ditekankan pada Women In Development (WID). Titik beratnya adalah bagaimana mengintegrasikan perempuan dalam berbagai bidang pembangunan yang berfokus pada produktivitas kerja perempuan. Ketika program WID dipandang gagal memperbaiki perempuan, digulirkanlah Women And Development (WAD) yang dicetuskan oleh kaum feminis-marxis. Pada tahun 1979 dihasilkan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women/CEDAW).

Konferensi PBB tentang perempuan ke II 1980 di Kopenhagen menguatkan isi konvensi ini. Pada tahun 1985 di Nairobi terselenggara Konferensi PBB III, yang lebih memantapkan tujuan yang ditetapkan pada tahun 1975, tentang “Kesetaraan, Pembangunan, dan Perdamaian”. Pada konferensi ini disetujui pembentukan UNIFEM, lembaga PBB dengan program WAD. UNIFEM adalah lembaga yang mengelola pendanaan program WAD, dengan sistem kerja tertutup. Sampai saat ini UNIFEM telah bekerja sama dengan banyak pemerintah di negara-negara berkembang untuk menggulirkan program-program yang telah ditetapkan PBB.

Pada tahun 1990, PBB menggelar Konferensi Vienna yang menyetujui program GAD (Gender And Development) dengan strategi PUG (Pengarus Utamaan Gender). Pada tahun ini pula PBB melalui UNDP (United Nation Development Program) menetapkan ukuran keberhasilan dalam menilai pelaksanaan KKG, yakni HDI (Human Development Index). Keberhasilan KKG terukur dari GDI (Gender Development Index), yaitu berdasarkan (1) Usia Harapan Hidup (Life Expectancy); (2) Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate); (3) Kecukupan Pangan (Food Security). Selanjutnya pada tahun 1995, saat Konferensi Beijing, ukuran keberhasilan ini ditambah dengan GEM (Gender Empowerment Measure) yakni Kesetaraan Gender (Gender Equality).

Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference On Population and Development-ICPD) tahun 1994 di Kairo juga menjadi bagian penting dalam isu pemberdayaan perempuan. ICPD menjadi batu loncatan penting untuk mencetuskan bahwa ‘perempuan’ adalah kata kunci bagi penyelesaian masalah ledakan penduduk. Konferensi menghasilkan program aksi bertema “Empowerment of Women” atau di Indonesia dikenal sebagai, “Pemberdayaan Perempuan”.

Ajang paling spektakuler bagi keberhasilan konferensi perempuan dunia adalah Konferensi PBB keempat tahun 1995 di Beijing yang menghasilkan Beijing Platform for Action-BPFA. Konferensi ini dihadiri oleh 189 negara-negara anggota PBB. Pada tahun ini mulai dikenalkan wawasan Gender And Development (GAD) dengan penekanan pada kesadaran tentang kesetaraan gender (gender equality) dalam menilai kesuksesan pembangunan. GAD menekankan pentingnya kajian yang fundamental terhadap struktur sosial dan keterlibatan aktif perempuan pada penentuan kebijakan. Perhitungan yang dipakai adalah GDI (Gender Development Index), yaitu kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, serta GEM (Gender Empowerment Measure), yang mengukur kesetaraan dalam partisipasi politik. Indikator kesetaraan yang sempurna (perfect equality) adalah 50/50.

Ada 12 bidang kritis yang menjadi perhatian penting dalam BFPA : (1) Perempuan dan Kemiskinan; (2) Pendidikan dan Pelatihan bagi Perempuan; (3) Perempuan dan Kesehatan; (4) Kekerasan terhadap Perempuan; (5) Perempuan dan Konflik Bersenjata; (6) Perempuan dan Ekonomi; (7) Perempuan dalam Kekuasaan dan Pengambilan Keputusan; (8) Mekanisme Institusional untuk Kemajuan Perempuan; (9) Hak Asasi Perempuan; (10) Perempuan dan Media; (11) Perempuan dan Lingkungan; dan (12) Anak Perempuan.

Untuk menguatkan komitmen aksi tindak BFPA, digulirkan Deklarasi Millenium (MDGs) 2000, yang melahirkan tujuan pembangunan millennium yang terdiri dari 8 target peningkatan kualitas SDM.

Demikianlah ide-ide KKG mulai merambah berbagai bidang kehidupan. Para pendukung KKG, yang dimotori oleh PBB, berupaya mempengaruhi kebijakan berbagai negara melalui beberapa konferensi Internasional yang tidak hanya melibatkan aktor non-state (LSM-LSM), tetapi sekaligus aktor state (perwakilan resmi Negara).

Labels:

posted by Rany Agustina @ 8:41 AM   0 Comments Links to this post

Perempuan dan Perubahan (part 1)

catatanku hari ini...
(makalahku yang ditolak TT...)
Dalam dua dasawarsa terakhir muncul sebuah wacana yang cukup menarik : feminisme. Perbedaan fungsi intrinsik dan ekstrinsik yang dimiliki pria dan wanita dalam masyarakat, disinyalir memiliki potensi masalah. Terlebih ketika satu gender dianggap memiliki otoritas terhadap yang lain. Perjuangan dalam mengentaskan ketimpangan gender menjadi suatu cita-cita bersama para wanita, tak terkecuali para muslimah yang lapar akan perjuangan untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik. Di samping didukung teknik penyajian yang ilmiah, ide feminisme ini dibalut dengan jargon emosional yang dapat menyentuh perasaan, seperti perjuangan hak-hak perempuan, pembebasan ketertindasan perempuan, dan lain-lain. Selain itu, realitas masyarakat menampilkan sosok wanita yang memilukan : terpuruk dalam seluruh aspek kehidupan.

Potret Buram Wanita Indonesia
Wanita Indonesia berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka menjadi korban kemiskinan, perdagangan (trafficking), KDRT, konflik, kebodohan, dan memiliki kondisi kesehatan yang cukup buruk. Mulai dari kasus gizi buruk, meninggal saat melahirkan, penyakit seputar organ reproduksi seperti kanker leher rahim (serviks), kanker payudara, juga penyakit kelamin hingga AIDS, mengancam kelangsungan hidup seorang wanita.
Yayasan Kanker Indonesia mencatat bahwa setiap dua menit seorang perempuan di dunia meninggal akibat kanker serviks/kanker leher rahim. Sedangkan di Indonesia, diperkirakan 20 perempuan meninggal setiap hari karena kanker leher rahim (YKI, 2008). Dibanding negara lain di Asia, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih relatif tinggi, yaitu 37 orang persepuluh ribu penduduk. Sedangkan AKI Sri Lanka hanya delapan persepuluh ribu, dan RRC hanya tujuh. Data terakhir kasus HIV dan AIDS di Indonesia menunjukkan jumlah hampir 20.000 orang yang telah terinfeksi penyakit mematikan itu. Padahal, UNAIDS memperkirakan sudah ada 270.000 orang yang terinfeksi namun tidak terlaporkan atau tercatatkan, dengan demikian, kemungkinan jumlah kasus sebenarnya di Indonesia adalah 10 kali lipat dari yang tercatat di Departemen Kesehatan RI (www.kespro.com , 2008). Dari data ini, hingga Juni 2008, sekitar 6.782 orang nya berusia di antara 20-29 tahun.

Tidak hanya aspek kesehatan, data Yayasan Mitra Perempuan menyebutkan tindak kekerasan terhadap perempuan tahun 2001 terbanyak dilakukan oleh suami (69,26 persen), mantan suami (4,81 persen), kerabat dekat (8,15 persen), dan pasangan atau kekasih (11,11 persen). Kasus kekerasan dan perkosaan ini juga terkait dengan meningkatnya jumlah remaja putri yang hamil di luar nikah. Dari waktu ke waktu, kasus kekerasan dalam rumah tangga merupakan kasus terbesar yang dialami perempuan dan anak. Menurut YMP, jumlah anak perempuan yang mengalami tindak kekerasan selalu meningkat, yaitu dari 5,4 persen menjadi 6,26 persen. Dari kasus kekerasan terhadap perempuan, 45 persen dialami perempuan yang bekerja di luar rumah, sedangkan 36,29 persen dialami ibu rumah tangga. YMP juga mencatat setiap lima jam sekali terjadi kasus perkosaan di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek).

Labels:

posted by Rany Agustina @ 8:35 AM   0 Comments Links to this post

Monday, April 06, 2009

Untuk Dimengerti...



"INFJs tend to be sensitive, quiet leaders with a great depth of personality. They are intricately and deeply woven, mysterious, and highly complex, sometimes puzzling even to themselves. They have an orderly view toward the world, but are internally arranged in a complex way that only they could understand. Abstract in communicating, they live in a world of hidden meanings and possibilities. With a natural affinity for art, INFJs tend to be creative and easily inspired"

INFJ…abstrak, kompleks, lembut, introvert, intuitive, tertekan, perasa, idealis, pemimpi, payah di logika, keras kepala, perasaan di atas pemikiran….

Sering kali seorang INFJ sulit dipahami oleh orang lain...bagaimana ia berpikir, merasa, atau bertindak..Tulisan ini mungkin sesuatu yang egois..menggambarkan secuplik abstraknya pemikiran seorang INFJ...mudah2an bisa dipahami dan dimengerti....


Ini hanyalah bayangan dari INFJ..bukan legitimasi seseorang untuk tidak berubah. Bukankah ia masih memiliki hari esok ?

Karakter hanyalah cerminan sifat seseorang…bukankah uswah hasanah hanyalah Rasul, Shahabat, dan para Salafush Shalih..?? Sesungguhnya Allah tidak akan berhenti memberikan ujian pada seseorang, hingga orang tersebut berjalan di muka bumi tanpa dosa. Bukanah hidup adalah perubahan…perubahan pemikiran, perubahan karakter…

(dirangkumkan dari pelbagai sumber web dan pembicaraan ‘privat’ para INFJ di dunia maya)

· INFJs are gentle, caring, complex and highly intuitive individuals. Artistic and creative, they live in a world of hidden meanings and possibilities. Only one percent of the population has an INFJ Personality Type, making it the most rare of all the types.

· They know things intuitively, without being able to pinpoint why, and without detailed knowledge of the subject at hand.

· This is something of a conflict between the inner and outer worlds, and may result in the INFJ not being as organized as other Judging types tend to be. Or we may see some signs of disarray in an otherwise orderly tendency, such as a consistently messy desk.

· Consequently, most INFJs are protective of their inner selves, sharing only what they choose to share when they choose to share it. They are deep, complex individuals, who are quite private and typically difficult to understand. INFJs hold back part of themselves, and can be secretive.

· But the INFJ is as genuinely warm as they are complex. INFJs hold a special place in the heart of people who they are close to, who are able to see their special gifts and depth of caring. INFJs are concerned for people's feelings, and try to be gentle to avoid hurting anyone. They are very sensitive to conflict, and cannot tolerate it very well. Situations which are charged with conflict may drive the normally peaceful INFJ into a state of agitation or charged anger. They may tend to internalize conflict into their bodies, and experience health problems when under a lot of stress.

· Beneath the quiet exterior, INFJs hold deep convictions about the weightier matters of life.

· INFJs are champions of the oppressed and downtrodden. They often are found in the wake of an emergency, rescuing those who are in acute distress. INFJs may fantasize about getting revenge on those who victimize the defenseless

· Accurately suspicious about others' motives, INFJs are not easily led

· Selective about their friends

· Nonverbal sensitivity enables the INFJ to know and be known by others intimately.

· INFJs enjoy a greater clarity of perception of inner

· Interest in hidden psychological stimuli behind the more observable dynamics of behavior and affect

· Deduce the inner workings of the mind, will and emotions

· Expresses a range of emotion and opinions

· Caught between the desire to express their wealth of feelings and moral conclusions about the actions and attitudes of others, and the awareness of the consequences of unbridled candor.

· Perhaps it is when the INFJ's thinking function is operative that he is most aloof

· Hard at work and focusing energy into thinking function because it’s weak.

· When the thinking function is operating, INFJ can be very sinistic

· Sensing, however, is the weakest of the INFJ's arsenal and the most vulnerable

· Complexity of character and the unusual range and depth of their talents

· Humanitarian in outlook, INFJs tend to be idealists, and because of their J preference for closure and completion, they are generally "doers" as well as dreamers.

· INFJs taking a disproportionate amount of responsibility in the various causes to which so many of them seem to be drawn.

· INFJs are deeply concerned about their relations with individuals as well as the state of humanity at large

· INFJs are true introverts, chosen few from among their long-term friends, family, or obvious "soul mates."

· Providing both time to rebuild their depleted resources and a filter to prevent the emotional overload to which they are so susceptible as inherent "givers." As a pattern of behavior, it is perhaps the most confusing aspect of the enigmatic INFJ character to outsiders, and hence the most often misunderstood -- particularly by those who have little experience with this rare type.

· Discomfort or pain in negative or stressful situations

· NF vision and idealism and the J practicality that urges compromise for the sake of achieving the highest priority goals. And the I and J combination, while perhaps enhancing self-awareness, may make it difficult for INFJs to articulate their deepest and most convoluted feelings.

· INFJs can be exceptionally difficult to pigeonhole by their career paths. Perhaps the best example of this occurs in the technical fields. Many INFJs perceive themselves at a disadvantage when dealing with the mystique and formality of "hard logic", and in academic terms this may cause a tendency to gravitate towards the liberal arts rather than the sciences.

· Interest in human beings and human values, rather than information and technology

· They trust their own instincts above all else. This may result in an INFJ stubborness and tendency to ignore other people's opinions

· On the other hand, INFJ is a perfectionist who doubts that they are living up to their full potential. INFJs are rarely at complete peace with themselves - there's always something else they should be doing to improve themselves and the world around them. They believe in constant growth, and don't often take time to revel in their accomplishments. They have strong value systems, and need to live their lives in accordance with what they feel is right

· INFJs are in some ways gentle and easy going. Conversely, they have very high expectations of themselves, and frequently of their families. They don't believe in compromising their ideals.

· INFJ is a natural nurturer; patient, devoted and protective. They make loving parents and usually have strong bonds with their offspring. They have high expectations of their children, and push them to be the best that they can be. This can sometimes manifest itself in the INFJ being hard-nosed and stubborn

· In the workplace, the INFJ usually shows up in areas where they can be creative and somewhat independent.

· They are not good at dealing with minutia or very detailed tasks. The INFJ will either avoid such things, or else go to the other extreme and become enveloped in the details to the extent that they can no longer see the big picture. An INFJ who has gone the route of becoming meticulous about details may be highly critical of other individuals who are not.

· The INFJ individual is gifted in ways that other types are not. Life is not necessarily easy for the INFJ, but they are capable of great depth of feeling and personal achievement.

· INFJs are quiet, private individuals who prefer to exercise their influence behind the scenes. Although very independent, INFJs are intensely interested in the well-being of others. INFJs prefer one-on-one relationships to large groups. Sensitive and complex, they are adept at understanding complicated issues and driven to resolve differences in a cooperative and creative manner.

· Accounting for 1–3% of the population,INFJs have a rich, vivid inner life, which they may be reluctant to share with those around them. Nevertheless, they are congenial in their interactions, and perceptive of the emotions of others. Generally well-liked by their peers, they may often be considered close friends and confidants by most other types. However, they are guarded in expressing their own feelings, especially to new people, and so tend to establish close relationships slowly. INFJs tend to be easily hurt, though they may not reveal this except to their closest companions. INFJs may "silently withdraw as a way of setting limits," rather than expressing their wounded feelings.This behavior may leave others confused and upset

teruntuk orang2 terkasih...maaf sudah membuat bingung

Labels:

posted by Rany Agustina @ 4:50 AM   3 Comments Links to this post

Sunday, March 01, 2009

Langitku Hari Ini :Hunain

catatanku hari ini...

Mengapa sebagian kita lebih sering melihat Uhud…
Tidak terdengarkah apa yang terjadi di Hunain ?
Atau terlupakan…

Di tengah hiruk pikuknya upaya penyelamatan diri kaum Muslim saat peristiwa Hunain…

Rasulullah menyeru :”Aina ayuhannaas..?”

Namun panggilan itu tenggelam, seiring dengan kepanikan dan ketakutan yang melanda jiwa-jiwa di bibir kematian.

Lari..Mundur…

Dalam kondisi panik dan terdesak..seseorang akan menunjukkan rasa manusiawinya..ketakutan yang amat sangat…musuh terus merangsek mendesak kaum Muslim dengan serangan pasukan pemanahnya

Bahkan meninggalkan orang yang menyerunya..meninggalkan sang komandan perang…meninggalkan Rasul

Rasul di sisi itu…terus menerus memanggil-manggil kaum Muslim agar kembali..
Sebagian kaum Muslim yang sangat lemah imannya tak hanya menambah kepedihan Rasul dengan kepergiannya, tetapi juga caci maki dan komentar sinis…

Kildah bin Hambal berkata: “Alaa bathala sihrul yauma”(Lihatlah, hari ini sihir telah lenyap)

Syaibah bin Utsman berkata: ”Al yauma adraku tsa’riya min Muhammadin, al yauma aqtholu Muhammadan (Hari ini aku menyaksikan pembalasan dendam atas Muhammad, Hari ini aku akan membunuh Muhammad)

Begitulah yang terjadi pada sebagian kaum Muslim yang lemah hatinya, ciut imannya…dalam posisi terserang, jiwa semata-mata diarahkan oleh naluriah…

Namun di tengah himpitan itu…berdirilah Rasul dengan teguh, kukuh…bergeming bertahan dalam peperangan. Disertai orang-orang yang bersedia mati untuknya….’Abbas dan Abu Sufyan bin Harits. ‘Abbas sang muhajirin terakhir….dan Abu Sufyan yang baru ‘terisi’ jiwanya oleh Islam selama 15 hari saja….yang dulunya sangat memerangi Islam…

Berteriaklah ‘Abbas memanggil kembali kaum Muslim: “Yaa ma’syaral anshari…Yaa ma’syaral ashhabi assamurah” (Wahai orang-orang Anshar, wahai orang-orang yang berbisik-bisik)

Memanggil keikhlasan yang mungkin sempat tertutupi oleh rasa ketakutan akan medan peperangan..kecemasan akan masa depan..

Tak ubahnya laksana panggilan adzan yang memanggil jiwa untuk kembali thuma’ninah menghadap-Nya di sela-sela kesibukan dan dunia…. ketika mendengar seruan ‘Abbas ini…mukhlisin segera teringat akan janji perdagangan nyawa dan hartanya dalam jalan jihad dengan-Nya…teringat kembali akan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…

Begitulah sosok mukhlisin…yang sangat sedikit jumlahnya. Hanya Ridho Allah dan kenikmatan syahid yang diinginkan. Bergelut dengan darah dan pedang. Memanggang seluruh jasad dan ruhnya dalam kobaran api kecintaan pada Rabbnya. Demi Rasul dan agama yang dimenangkan oleh Allah semata. Tak dihiraukannya sakit yang menusuk tubuhnya
Terkumpul kembali 100 orang dari puing-puing yang berserakan untuk kembali mengayuh badai peperangan…

Begitulah…

Menjadi seorang pemimpin memang bukanlah hal yang mudah. Ia harus dapat bertahan dan berdiri dalam kebenaran tanpa keraguan, walaupun semua orang meninggalkannya. Walaupun tak ada tameng yang melindunginya. Tak ada tembok yang benar-benar kokoh untuk menjadi tempatnya bersandar. Walaupun banyak caci maki dari kaumnya sendiri…

Hanya keridhoan Allah dan Jannah-Nya lah yang menjadi pedangnya ketika semua senjata patah karena porak porandanya barisan dan pasukan. Hanya Keikhlasan dan kesabaranlah yang menjadi tamengnya ketika semua perisai dan pengawal telah hilang.

Kembalilah ke barisan wahai mukhlisin….

Ibnu Ishaq berkata, Bujair bin Zuhair bin Abu Sulma berkata di Perang Hunain,
Kalaulah tidak ada Tuhan dan hamba-Nya, kalian melarikan diri
Pada saat ketakutan merendahkan semua pengecut
Di tikungan lembah pada hari musuh menghadang kami
Dan pada saat kuda-kuda cepat jatuh berguguran
Di antara orang yang memegang ujung bajunya dengan tangannya agar ia bisa berlari cepat
Dan orang yang jatuh miring yang didorong kaki kuda dan dadanya agar jatuh
Allah memuliakan kami dan memenangkan agama kami
Serta membuat kami Berjaya dengan menyembah ar-Rahman
Allah membinasakan mereka dan memecahbelah persatuan mereka
Serta menghinakan mereka dengan menyembah syetan

(di suatu malam….menata segala kemungkinan)

Labels:

posted by Rany Agustina @ 8:06 PM   2 Comments Links to this post

Monday, February 23, 2009

Langitku hari lalu : Hunain

catatanku hari ini...

Langitku hari lalu : Hunain
Teringat sebuah peristiwa yang dialami Rasulullah dan para shahabat pada tahun 8 Hijriyah

Peristiwa pembebasan Makkah (Futuh Makkah) menempati ‘tempat berkesan’ tersendiri di hati-hati seluruh warga Makkah dan jazirah Arab sekitarnya. Tak heran karena peistiwa ini, banyak orang Quraisy Makkah yang akhirnya berbondong-bondong masuk ke dalam Islam. Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri betapa kuat dan besarnya kekuatan kekhilafahan Islam.

Dakwah Islam semakin mudah untuk merasuk ke akal para insan yang kehausan akan kebenaran, jiwa-jiwa yang kekeringan dan mencari ketenangan. Pembebasan ini memberikan dampak dahsyat bagi orang-orang yang akhirnya menemukan Islam, dan orang-orang yang selama ini membenci Islam. Salah satunya adalah barisan yang terdiri dari kabilah Hawazin, kabilah Tsaqif..juga kabilah Nashr, Jusyam, Sa’ad bin Bakr, dan beberapa dari Bani Hilal, yang dipimpin oleh Malik bin Auf. Malik memilih strategi pre-emptive strike…menyerang sebelum diserang oleh pasukan kekhilafahan Islam.
Malik membawa pasukannya untuk menyerang kaum Muslimin di Lembah Authas. Berita ini sampai di telinga Rasulullah pada hari ke-15 setelah Futuh Makkah. Pasukan Kaum Muslimin yang terdiri dari 10.000 prajurit Futuh Makkah dan 2.000 orang Quraisy yang baru masuk Islam bersiap menghadapi pasukan Malik, berjalan menuju tempat duel, Lembah Authas. Namun ternyata, Malik memiliki pengalihan strategi lain dalam menghadapi kaum Muslim..yaitu dengan mengubah lokasi penyerangan ke puncak Hunain. Seluruh pasukan Malik bersiap di atas bukit untuk mengacaukan barisan dan komando Rasulullah. Benar saja…pasukan kaum Muslim yang terkenal sulit dikalahkan dan sangat unggul dalam memahami lahan peperangan..saat itu harus lari kocar kacir..ketakutan akan sergapan musuh yang datang tiba-tiba…Saat itu hanya sedikit…hanya sedikit saja..yang tetap berdiri di samping Rasulullah dan tetap bertahan dalam medan peperangan.

“Sungguh mereka bertekad bulat dan siap. Demi Allah, tidak ada yang menakutkan kami ketika kami turun melainkan batalion-batalion mereka yang menyerang kami dengan kompak ibarat serangan satu orang. Kami lari kocar kacir dimana seorang pun tidak menoleh kepada orang lain.

Rasulullah saw bergeser ke sebelah kanan, kemudian bersabda, ‘Hai Manusia, kemarilah, aku Rasulullah. Aku Muhammad bin Abdullah.’ Tidak ada respon, sebagian unta pergi meninggalkan unta lain dan orang-orang berlarian. Hanya beberapa orang dari kaum Muhajirin, Anshar, dan ahlul bait yang tetap bertahan bersama Rasulullah. Di antaranya Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Sufyan, Fadhl bin Abbas, Rabi’ah, Usamah bin Zaid, dan Aiman. ..”
(Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2)

Walaupun akhir kisah perang ini berakhir bahagia (kaum muslim menang..)..terlihat bahwa kabilah Hawazin dan Tsaqif dapat sempat mengacaukan barisan kaum Muslim. Padahal mereka hanya dipersatukan oleh kesamaan musuh, dan motivasi dunia dalam berperang. Mengapa kaum Muslim dapat dengan begitu mudahnya terpukul dan kehilangan komando. Hanya sedikit saja yang tersisa, yang mau tetap bertahan untuk melindungi Rasulullah dan memperjuangkan misi peperangan. Hanya 10 orang saja yang tersisa dari total 12.000 orang pasukan. Apakah semata-mata hanya dengan jumlah yang banyak, kemenangan akan otomatis dapat teraih ? Mengapa jumlah yang banyak justru menyebabkan rasa congkak dan sombong ?

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak dan juga pada hari peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman. Dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir. Dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir)(Terjemahan QS Taubah 25-26)

Selain menilik kembali strategi politik dan perang yang dimiliki kedua belah pihak, Kaum Muslimin dan Malik cs..satu pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa ini adalah tentang keikhlasan.

Ya..keikhlasan…

Satu kata yang seringkali kita lupakan dalam melangkah di kehidupan ini.

Sabda Rasul :
“Allah akan menerangi orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia menyadarinya, menjaganya, dan menyampaikannya. Terkadang ada orang yang membawa pengetahuan kepada orang yang lebih tau darinya. Ada tiga perkara yang menyebabkan hati seorang muslim tidak dirasuki sifat dengki, yaitu ikhlas beramal karena Allah, menasihati para pemimpin kaum Muslim, dan senantiasa ada dalam jama’ah muslimin. Karena dakwah akan menyelimuti dari belakang mereka”(HR Tirmidzi)

Seringkali kita begitu terlena dengan banyaknya orang yang ikut berjuang, ataupun mengeluh karena begitu sedikitnya barisan pejuang. Padahal jumlah bukanlah menjadi faktor utama berhasilnya sebuah perjuangan. Berbagai peristiwa peperangan Rasulullah membawa pelajaran itu untuk kita…belajarlah dari perang badar, uhud, ahzab, khaibar, mu’tah, hunain, tabuk…

Hari lalu…langit menangis..mungkin karena ketidakikhlasanku..mungkin karena kesombonganku menjejak di bumi ini..betapa sulit mengatakan Engkau lah yang Maha Berkehendak…

Aku kalah…

Sedikitnya jumlah pasukan adalah tantangan yang diberikan kepada kita dari Allah untuk menguji sebesar apakah rasa keikhlasan itu…sejauh apa kita dapat mengatasi rasa ketakutan, ke-apatis-an, kelelahan, kelemahan itu…Selama kebenaran itu masih kita pegang, ingatlah, bahwa akan selalu ada ‘bala tentara yang tidak terlihat’ yang akan mengiringi, akan selalu ada kemudahan selama kita terus mengupayakan untuk tetap bertahan. Dan pada akhirnya,,keresahan itu akan berkurang bahkan menghilang…dan hanya akan menyisakan ketenangan….dalam berjuang. Itulah keikhlasan…

“Berikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemegahan, keluhuran, pertolongan, dan keteguhan di muka bumi. Siapa saja dari umat ini yang melaksanakan amal akhirat untuk dunianya, maka kelak di akhirat ia tidak akan mendapatkan bagian apapun”(HR. Ahmad dalam al-Mukhtarah)

Labels:

posted by Rany Agustina @ 10:48 PM   0 Comments Links to this post

Tuesday, February 17, 2009

Terhina oleh Diri

catatanku hari ini...

Sang bulan menunduk sayu dalam peraduan malamnya, yang kian sama terasa dari malam ke malam…dari malam malam lalu
Ia menyesali, mengapa sinarnya kian meredup…mengapa sapanya pada bintang kian tak ramah…mengapa ia tak mampu lagi menjadi sosok penerang
Sampah, hanya sampah yang ia ukir selama ini…dalam bentang malam yang kian pekat. Ya, mega kian pekat, tidak lagi seperti cermin..tak sanggup lagi melihat dalam dirinya karena terlalu pekat
Hitam
Kerlip bintang tak mampu lagi ia kalahkan dengan sinarnya ..ia terlalu takut untuk mengakui kelamnya malamnya kini…

Kemana catatan2 itu…kemana ukiran momen berharga antara diriku dan diriMu..dalam keheningan malam, dalam bergegasnya pagi, dalam lantunan ayat di serambi masjid…
Mengapa ia menguap begitu saja..
Haruskah kupersalahkan dunia…?

Rabbi, malam ini kian pekat
Jangan biarkan qalbu ini berkata sama
Dalam sujudku yang bertabur peluh dan isak
Bolehkah aku menukar semua sampah diri ini dengan cintaMu lagi…
Dalam penatnya asa
Izinkan aku kembali mengulang alif bat a mu
Dari alif hingga ya
Mengeja hingga aku bisa membaca kembali
Izinkan aku kembali mengenalMu, mencintaMu

Tobat...mode on...
Hampir selama ini, sering menulis artikel sampah……………

Labels:

posted by Rany Agustina @ 7:21 PM   0 Comments Links to this post

Wednesday, February 11, 2009

Aku Cantik...??

catatanku hari ini...


Tentang Buku
Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas, dan Globalitas dalam Iklan Sabun
Penulis : Aquarini Priyatna Prabasmoro
Penerbit : Jalasutra
Jumlah halaman : 134 halaman

Mirror..mirror on the wall, tell me who’s d most beautiful woman in this world ? Is that me?”

Kalau mendengar kata itu, pasti yang langsung terbayang dalam benak kita adalah gambar sang ratu jahat dan putri salju. Ratu jahat yang berusaha memata-matai seluruh wanita cantik lewat cermin ajaibnya, untuk meraih kepuasan abadi- menjadi yang tercantik di dunia.
Hal yang paling menarik dari seluruh buku ini, menurutku justru ada di bagian avant proposnya. Kurang lebih menceritakan tentang hakikat tubuh, cermin, dan citra. Bagian ini menyadarkan kita akan makna “bercermin” sebenarnya.

Bercermin adalah sebuah aktivitas problematis. Aktivitas tersebut bukan hanya menghasilkan pantulan seseorang yang bercermin di hadapannya. Seseorang, ketika bercermin, bukan hanya mengharapkan akan memandang rupanya, tetapi berharap untuk mengetahui, bahkan juga menciptakan pemaknaan akan diri.

Mungkin selama ini kita tidak menyadari apa yang kita pikirkan dan rasakan ketika bercermin. Kesimpulan..’aku cantik’ bukanlah bebas nilai, hanya semata-mata diukur dari ragawi. Tapi ada mind-set yang melandasi kesimpulan itu. Kalo istilahnya industri..ada bench markingnya. ‘Efek psikologis’ bahwa 'aku kurang cantik' inilah yang dimanfaatkan untuk komersialisasi produknya. Iklan akan menawarkan berbagai paket perawatan, untuk ‘mempermak’ hal yang sering dianggap menjadi kekurangan wanita.
So aktivitas bercermin dan citra bukanlah hal yang bebas nilai. Jangan salahkan tubuh yang telah capek-capek diciptakan Allah dengan bentuk yang terbaik, karena tetangga sebelah menyebutmu..’tidak cantik’. Hati-hati dengan pemaknaan diri based on citra...karena rawan rekayasa..

Kosmetik justru alat untuk menghapus wajah, yang menghapus mata di balik mata-mata yang lebih indah, yang menihilkan bibir-bibir yang lebih merekah, kepalsuan tidak memisahkan subjek, melainkan secara misterius mengubahnya (Baudrillard)

Hehe..bukan berarti menggunakan kosmetik dan sabun jadinya haram. Hukumnya tetep halal (asal hukum bendanya halal).Hanya menyayangkan para wanita (ngaku...!) yang terjebak untuk ‘latah’ dengan ‘terpaksa’ membeli produk2 pemutih dan sabun, bahkan mendadak jadi ‘gadis pingitan’-anti sinar matahari, hanya karena ia takut kulitnya jadi ‘ga putih’. Iklan semata-mata hanyalah menawarkan pilihan mandiri yang tidak dipaksakan. Harus ada ruang-ruang kritis untuk memilih, bukan terjebak oleh ‘paksaan masyarakat;.
Aquarini dengan cerdas menyingkap konspirasi di balik iklan sabun yang ada di Indonesia (sampel : Lux dan Giv). Semua disingkap...dari standar cantik sempurna: putih dan ke-Putih-an, model indo Tamara dan Sophia Latjuba (global yang terlokalisasi), sampai konflik ras dan kelas yang terselubung. Dibahas dengan tuntas, konspiratif, dan ideologis....plus konsisten...ga sedikit memang majalah2 remaja atau teenlit lain, yang membahas bahwa ‘setiap wanita pasti punya kecantikan yang berbeda..and we must b proud of it’ tapi ending of d story atau pemilihan gadis sampulnya akhirnya..pasti dipilih yang komersil...sosok remaja wanita putih, kurus (papan ala twiggy)...kasian...banyak yang mati-matian ngurusin badan sampai meninggal karena anoreksia dan bulimia.
Well, standar-standar yang kita kenal selama ini itu semata-mata hanyalah frame berpikir yang ditanamkan kapitalis untuk melanggengkan tujuannya (penglaris dagangan..!!). So jangan jadi pengekor,jadilah insan kritis yang membuka lahan untuk memilih tentang segala sesuatu. Teringat perkataan seorang dosen,,,jika di negara tropis/berkembang..iklan sabunnya pasti bilang..dengan ekstrak parfum dari Eropa...kalo di Eropa, iklannya pasti bilang..dengan ekstrak minyak tropikal. Kita capek2 mutihin kulit..di sana tanning....

Mengapa yang indo itu lebih cantik..?
Mengapa ‘yang putih’ itu lebih cantik dari yang sawo matang..?
Mengapa ..dan mengapa..
Jika standar cantik citra berubah apakah harus ramai-ramai operasi plastik ??
Apakah salah seseorang ketika ia diciptakan dengan kondisi yang berbeda ?


Wanita...sesungguhnya sama, yang membedakannya hanyalah apa yang ada di balik jasadnya, yang tersembunyi di balik raganya...hanyalah ketakwaannya


Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”(QS Al Ahzab 35)

Sabda Rasul:
“Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah seorang wanita yang senantiasa mengingatkan tentang Hari Akhir”

Dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, malaikat Jibril pernah mendatangi Rasulullah kemudian berkata
“Wahai Rasulullah! Ini Khadijah yang membawa kepadamu satu piring bekas yang terdapat di dalamnya lauk, makanan, atau minuman. Apabila beliau sampai kepadamu, sampaikan salamku kepadanya dan salam dari Tuhannya. Sampaikan berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di dalam surga yang dibuat dari mutiara, di dalamnya tidak ada kebisingan dan kesusahan”(HR Bukhari)


Mau jadi seperti Khadijah...bertetangga dengan Rasul di surga??

Labels:

posted by Rany Agustina @ 4:21 AM   4 Comments Links to this post

Wednesday, February 04, 2009

Kritik Novel Perempuan Berkalung Sorban

catatanku hari ini...

Kritik Novel Perempuan Berkalung Sorban
Penulis : Abidah El Khalieqy
Penerbit : YKF&Ford Foundation, Arti Bumi Intaran
Jumlah Halaman : 320 halaman

Terjebak oleh pencarian makna yang lebih dalam dari filmnya...akhirnya ‘terpaksa’ membeli novelnya..(lebih tepatnya dipaksa oleh rasa penasaran sih ).Ga hanya beli novelnya..jadi penasaran sama sosok penulisnya...’terpaksa’ beli novel Geni Jora nya juga. Awalnya sih novel ini mirip dengan filmnya, sama-sama bercerita tentang pembebasan perempuan..tapi lama-lama kok kerasa beda.. novelnya mulai kehilangan makna itu...bahkan menguapkan semua nilai yang ada. Bukannya dapet sesuatu eh malah makin gelisah setelah baca novel ini.. dan yang paling menyedihkan........akhirnya terlalu dipaksakan...ga jelas apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh sang tokoh utama. Hanya sekedar memenuhi kebahagiaan hidupnya sendiri, dengan caranya sendiri.........ga ideologis. Kukira....Feminisme salah kaprah

Berpikir lebih mendalam tentang film ini..terlepas dari segala pro kontra yang ada di masyarakat, terjadi paradoksal cita-cita yang diharapkan dari tokoh perempuan. Menentang seluruh aturan Islam yang seakan menempatkan wanita menjadi makhluk nomor dua, tetapi justru berusaha meraih nilai maskulin itu. Akhirnya menempatkan nature dan nurture pada posisi vis a vis. Aturan Islam banyak ditafsirkan ulang. Kritik terhadap jilbabnya justru menafikan kewajiban jilbab dan kerudung itu sendiri. Mendewakan akal...menempatkan fakta bukan sebagai objek tetapi subjek dalam berpikir.

Stigma pesantren jadi tercemar..seakan-akan memang lumrah jika harus terjadi pembaharuan kurikulum menuju ‘modernisasi’...well..!!

Mm..makin terasa ada sesuatu di balik pencetakan ulang buku ini....menurutku ini bukan pencerdasan, justru pembodohan !!Ups...

Kenapa ya yang semakin komersil seringkali harus mengalami kelunturan nilai dan makna..?

Mengapa buku yang ditulis 8 tahun yang lalu kini dicetak ulang dan difilmkan...??

Sedikit kontroversial mungkin....apapun yang terjadi, film ini tetap membawa banyak arti untukku... :)

Labels:

posted by Rany Agustina @ 7:56 PM   5 Comments Links to this post

 

Powered by Blogger

Subscribe to
Posts [Atom]